Carita Keluarga Lesung
  • Home
    • Version 1
  • About Me
  • Portofolio
  • Karya
    • Buku
    • Supports Group
    • Gambar
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Parenting

Manajemen Diri

Story


Selama ini banyak sekali pemikiran yang sering kali berkecamuk dalam kepala Penulis Pemula. Ketakutan yang menghantui tentang hasil karya dan juga perjalanan yang tidak mudah untuk menemukan peminat karya kita membuat banyak Penulis Pemula seringkali gugur dan mundur sebelum benar-benar 'berperang'. 

Ada beberapa mindset dan pola pikir yang perlu dibangun agar Penulis Pemula tetap semangat berjuang untuk melahirkan karya-karya yang bisa menjadi insipirasi bagi banyak orang. 

1. Menulis bukan sebuah kesenangan atau hoby semata. 

Aktifitas menulis yang berawal dari aebuah kesenangan adalah sebuah 'modal' utama karena seseorang akan terbiasa mengeluarkan ide dan perasaan yang dialaminya. Tapi, sebuah kesenangan saja bukan hal yang cukup karena menulis bisa dijadikan sebuah aktifitas yang menghasilkan uang atau prestasi dari berbagai ajang lomba. 

Oleh karena itu, Penulis harus terus meningkatkan kemampuan agar setiap karyanya layak untuk menembus 'Pasar Pembaca'. 

2. Merasa tulisannya jelek dan tidak layak diterbitkan. 

Perasaan yang sering menghampiri hampir semua Penulis Pemula adalah rasa percaya diri akan hasil karya yang telah dibuat. Merasa malu dan berpikir berlebihan sehingga menganggap orang lain tidak akan suka. Tentu, hal ini adalah wajar. Tapi, kita harus bisa terus melawan rasa malu dan tidak percaya diri dengan terus mencoba mengenailkan tulisan-tulisan kita kepada orang lain. 

3. Semangat mencari ilmu baru. 
Belajar dan terus belajar agar setiap tulisan yamg disajikan semakin baik dari hari ke hari. Pelajari teknik menulis, topik yang sedang trend, dan gaya tulisan yang kita minati. Bisa mempelajari secara mandiri melalui buku atau platform online yang banyak tersedia secara gratis, atau bisa mengikuti kelas-kelas menulis. 

4. Setiap hari 'Menulis' dan 'Membaca'.

Dua aktifitas tersebuat ibarat aktifitas makan dan minum yang tidak boleh terlewatkan agar kemampuan terus terasah dan stok inspirasi terus terpenuhi. Tidak ada tips lebih gacor dari selain menulis, menulis, dan menulis. Supaya ide tetap mengalir, bisa diimbangi dengan membaca, membaca,  dan membaca. 

Penulis yang hebat, pembaca yang cermat

5. Menulis bukan soal bakat, tapi hasrat. 

Banyak para Penulis Pemula berhenti saat menemui kesulitan dan kendala. Si tengah rasa putus asa, mereka berpikir bahwa ternyata menulis bukanlah sebuah bakat yang mereka miliki sehingga jalan menuju kesuksesan terasa lambat. Padahal, menulis bukan persoalan bakat, melainkan hasrat atau kemauan yang bisa dilatih sehingga siapa pun orangnya akan bisa menjadi Penulis. 

6. Menghindari Plagiarisme. 

Plagiarisme adalah sebuah tindakan mengambil atau mencuri ide, kata-kata, atau karya orang lain tanpa  izin dari pemilik karya. Meskipun dalam sebuah karya, pasti ada saja ide yang sama. Tapi, setiap Penulis akan mampu mengembangkan dan mengemas ide secara beebeda. 

7. Jangan takut memulai. 

Biasanya para Penulis Pemula takut memulai beragam genre. Padahal, menemukan jati diri menulis itu bıtuh melalui proses trial and eror. Jadi, coba aja dulu menulis, nanti kita akan menemukan dimana sih 'rumah' kita yang sebenarnya. 

8. Bertekad menulis hal baik. 

Di Era sekarang banyak para penulis yang memiliki kemampuan menulis memukau, tapi kemampuan itu digunakan untuk menulis hal tidak baik yang bahkan melanggar kode etik budaya dan agama. Oleh karena itu, para penulis harus berupaya membulatkan tekad apapun yang dituliskan adalah hal baik dan kebenaran yang tak akan pernah mau ditukar dengan kelicikan dan keuntungan semata. 

Diantara mindset di atas, kira2 hal mana yang terasa sulit dijalani?

Aku pernah berada di fase kondisi, rasanya hidup begitu tak semenarik itu. Tak ada yang membuat semangatku menggelora menjalani hari. Hingga merasa aku tidak istimewa. 

Tidak punya keinginan, tidak tahu kelebihan yang bisa menjadi value diri, tidak punya tujuan. Menjalani hidup hanya 'bernapas' mengikuti waktu yang bergulir. 

Hingga satu waktu, ada seseorang menghubungiku, "Kak, aku suka banget sama tulisan-tulisannya, bacanya tuh enaaak banget. Boleh aku belajar?" tanyanya. 

Di masa-masa itu aku mengisi kegabutan hidup dengan menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. 

Aku benar-benar tidak punya koneksi diri, banyak yang mengungkapkan rasa suka atas hasil tulisanku ternyata tidak membuatku mengerti kalau aku punya potensi yang bisa dikembangkan lebih baik. 

"Boleh, Andita," jawabku membuat Andita merasa sangat senang. 

Sejak hari itu, Andita rajin menghubungiku terkait dengan naskah dan akupun memberikan koreksi berulang karena naskah yang dibuatnya sangat mentah. Tapi, sebanyak apapun koreksi yang kuberikan, Andita selalu menerima dengan hati yang lapang. 

Beberapa bulan berlalu, naskah pun jadi. Lumayan layak diterbitkan antologi mengingat ini adalah naskah pertamanya. Proses penerbitan pun tak bisa cepat, masih harus melalu beberapa tahap. 

Editor penerbit sudah approve, layout dan flayer promosi sudah jadi, kemungkinan tinggal menunggu beberapa pekan lagi buku antologi siap dipeluk oleh Andita. Namun, kabar mengejutkan membuat napasku sempat tertahan. Tak menyangka. 

"Halo, Kak Evi. İni Kakaknya Andita. Terimakasih sudah membantu mewujudkan keinginannya menjadi penulis. Sekarang Andita sudah tenang, sudah tidak sakit lagi."

Beberapa bulan mengenal Andita, aku sama sekali tidak tahu jika selama proses menulis, dia sedang berjuang melawan sakit kelainan pembuluh darah. 

İni naskah pertama dan terakhir Andita, tapi melaluinya aku banyak belajar. Saat kesempatan masih mampu diraih, jangan pernah berhenti untuk belajar dan menebarkan manfaat bagi oranglain. 

Aku memahami satu hal, bisa jadi Allah tuh memberikan kita sapaan-sapaan dan pesan bermakna melalui beragam hal yang terjadi menghampiri. Sapaan lembut masih bisa diterima, tapi bagaimana jika sapaan itu hadir dengan cara yang menyakitkitkan dan menyedihakan? Apapun takdirnya, semoga kita terus berusaha maksimal melakukan setiap kebaikan. 



Mengisi akhir pekan dengan melakukan family time sangat menyenangkan. Setelah lima hari dalam sepekan, orangtua dan anak memiliki agenda dan capaian masing-masing hingga waktu terasa begitu padat membuat interaksi antar anggota keluarga cukup terbatas. 

Kesempatan akhir pekan dimana sang ayah libur dari aktifitas bekerja adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu. Begitu juga dengan kami yang selalu excited menjalani akhir pekan. 

Beberapa pekan lalu, kami sudah jauh-jauh hari merencanakan berkunjung ke İslamic Bookfair (İBF) yang diadakan setahun sekali di Senayan, Jakarta. İBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Agustus 2024.

İsamic Bookfair adalah sebuah event pameran buku-buku İslami yang melibatkan ratusan penerbit di İndonesia. Namun, ternyata tidak hanya pameran stand buku saja, terdapat juga stand fashion, travel umroh dan sekolah yang menyediakan informasi pendaftaran untuk tahun ajaran baru. 

Sebagai keluarga yang membangun kecintaan terhadap dunia literasi, event ini tentu sangat menarik. Melihat ribuan judul buku dengan beragam jenis fiksi dan non fiksi begitu memanjakan mata. 

Kami sekeluarga mendatangi Senayan menggunakan mobil pribadi, tetapi jika teman-teman mau menggunakan trasportasi umum, bukan pilihan yang sulit, kok. Bisa menggunakan kereta Commuterline, Transjakarta, MRT, dan transportasi lainnya yang mudah dijangkau dari wilayah kalian. 

Sebelum masuk, pengunjung akan dimintai tiket yang sudah dibeli melalui online atau on the spot. Tidak perlu khawatir jika belum memiliki tiket karena beli mendadak pun tidak perlu mengantri lama, panitia menyediakan loker tiket dengan banyak. 

Harga tiket cukup terjangkau yaitu Rp 10.000 untuk pelajar (8 tahun ke atas) dan Rp 15.000 untuk umum. Buka jam 08.00-22.00 sepuasnya tidak dibatasi waktu berkunjung. 

Hari Terakhir İBF


foto: dokumen pribadi Keluarga Lesung

Hari terakhir İBF sangat padat membuat kami yang membawa empat orang anak cukup repot, tetapi tidak mengurangi rasa antusias untuk berburu buku yang menarik. 

Jika dipikir-pikir sebetulnya simpel saja dengan membeli buku secara online. Tetapi, ada kepuasan tersendiri ketika sepanjang pandangan mata melihat ribuan buku bertumpuk, berikut menghirup aroma khas dari kertas-kertas.

Ditengah padatnya sepanjang stand, kami sebagai orangtua berusaha lebih extra menajamkan konsentrasi untuk menjaga empat orang anak dengan usia beragam. Anak pertama usia 12 tahun, kedua 9 tahun, ketiga 5 tahun, dan paling kecil masih bayi 2 bulan. 

Namun, berusaha tetap enjoy menjelaskan berbagai buku menarik apa saja yang bisa direkomendasikan kepada anak-anak. Ada banyak pilihan seperti buku komik, novel, atau buku yang menunjang tema pembelajaran.

Ada beberapa tips bagi orangtua yang akan berkunjung ke İBF di hari terakhir:



1. Persiapkan informasi dari hari sebelumnya terkait peta/denah gedung, agar memudahkan untuk mencari no stand yang dituju ditengah padatnya para pengunjung. 

2. Bekali pengetahuan anak-anak terkait keamanan diri agar selalu waspada dan fokus sehingga tidak terpisah dengan keluarga. 

3. Mempersiapkan list buku yang akan dibeli sehingga memiliki patokan jumlah buku yang akan dibeli, untuk menghindari kebingungan diantara ribuan pilihan judul buku. Selain itu, menjadi rem jika kalap membeli buku melebih budget. 

4. Sebelum berkeliling dari stand ke stand pastikan persediaan air minum cukup dan kondisi diri prima tidak sedang ingin ke toilet, mengingat jumlah pengunjung yang banyak sehingga antrian sangat mengular. 

5. Anak lima tahun kebawah sebaiknya menggunakan stroller supaya memudahkan orangtua menjaga mereka, selain itu anak tidak mudah capek menyusuri stand yang sangat luas selama berjam-jam. 

Kira-kira, apalagi ya tips yang bisa dipersiapkan? 

Hal Menarik di İBF


Bagi para pecinta buku, tempat ini menjadi ajang healing sekaligus pusing, hehe.. Bagaimana tidak pusing, banyak sekali diskon buku yang membuat jiwa meronta. Antara 20% hingga 90% diskon yang dipajang besar-besar tergantung jenis buku dan penerbit, bahkan ada buku yang dibandrol hanya lima ribu rupiah saja. 

Di sana terdapat dua panggung acara yang menyediakan kegitan menarik seperti diskusi dari para penulis, editor, tokoh, pentas seni, lomba, dan banyak acara menarik lainnya. 

Bagiku, hal menarik yang menyenangkan adalah bisa bertemu langsung dengan penulis favorit sehingga para pengunjung bisa langsung meminta tandatangan dan berswafoto. Jika penulis tersebut termasuk easy going, tak jarang mereka mengajak ngobrol yang membuat kita semakin termotivasi. 

Jika lelah berkeliling, di sana disediakan tempat foodcourt untuk mengisi energi dengan beragam pilihan makanan dan miuman dengan harga yang cukup terjangkau. Namun, tempat duduk sangat terbatas sehingga peelu mencari tempat nyaman untuk anak-anak. Kami mendapatkan tempat di sisi gedung keluar meskipun harus rela lesehan, sekaligus dapat tempat untuk charger gawai secara gratis. 

Jika memasuki waktu Shalat, tidak perlu khawatir karena tersedia mushala atau masjid yang bisa digunakan untuk beribadaha, dilengkapi toilet dan tempat berwudhu.

Penutup



dokument pribadi Keluarga Lesung

Secara keseluruhan event ini sangat menarik dan bisa menjadi rekomendasi untuk wisata edukasi bersama keluarga, sebagai bentuk menanamkan kecintaan terhadap dunia literasi khususnya membaca. 

Hal ini sebagai upaya meningkatkan minat baca di circle keluarga kecil. Menurut survey yang dilakukan UNESCO, di İndonesia minat baca masih sangat rendah diangka 0.001%. Artinya diantara 1.000 orang İndonesia, hanya 1 orang saja yang memiliki kegemaran dalam membaca buku. 

Sampai berjumpa di event İslamic Bookfair tahun depan. 

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFİ supported by BRİ. 


Melewati fase-fase membosankan menunggu pemulihan pasca caesar membuatku butuh hiburan yang membuat hormon-hormon endorfin meningkat supaya produksi ASI lancar jaya. Rasanya membaca sebuah buku adalah ide yang sangat menyenangkan.

Seringkali mengikuti halaman Instagram seorang dokter muda yang sedang viral dengan sederet edukasi tentang kesehatan dan juga kisah-kisah menarik yang terinspirasi dari kisah kehidupannya, membuatku tertarik untuk membaca buku karyanya. Beliau adalah dr. Gia Pratama.

Daya tarik awalnya membaca setiap tulisan yang diposting terasa ringan namun tetap bermakna, rasanya menjadi "ketagihan" merasa tak puas kalau hanya sekadar membaca dari sederet status yang terbatas. Diantara empat buku yang sudah diterbitkan, aku memutuskan membaca terlebih dahulu novelnya yang berjudul Cinta 31.000 Kaki. 

Deskripsi Buku 

Judul Buku : Cinta 31.000 Kaki Penulis : dr. Gia Pratama
Kategori : Fiksi Indonesia
Tahun Terbit : 2023
Penerbit : PT Mizan Pustaka
ISBN : 978-602-411-325-5
Jumlah Hal : 248 Halaman
Ukuran Buku : 14 x 20,5 cm
Harga Buku : Rp 75.650 
 
Blurb

Wira, anak ke-11 dari 13 bersaudara, anak dari seorang petani yang sangat sederhana menemukan dirinya terjebak dalam labirin perasaan yang tidak dia mengerti ketika bertemu Rani saat usia sekolah dasar. Takjub, kagum, dan terpesona, tidak bisa dijelaskan. Yang dia mengerti adalah bahwa Rani selalu ada di dalam pikirannya.

Terpisah oleh jarak, waktu, dan status sosial, perasaan aneh itu tetap tak tergoyahkan, menunggu? Entah apa yang dinanti. Rani pun tidak pernah tahu siapa dan apa yang sedang Wira jalani. Namun, suatu waktu di akhir SMA, Wira bertemu kembali dengan Rani, lalu mengetahui bahwa dokter dan pilot adalah profesi yang dikagumi gadis itu. Perasaan aneh itu berubah menjadi dorongan, keteguhan, dan ketangguhan. Wira merasa harus menjadi pilot.

Dia mulai mengerti perasaan aneh itu adalah cinta, dan cinta itu setia. Sekarang, Wira menghadapi perjuangan sesungguhnya. Bertarung melawan ribuan orang yang mendaftar menjadi pilot dan bertarung dengan ketidakpastian, apakah cintanya bertepuk sebelah tangan? atau malah mungkin dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Rani.

Hal yang Berkesan Dalam Novel Cinta 31.000 Kaki

1. Semangat Mengejar Cita-Cita

Cerita berlatar tahun 60'an sampai 90'an ini dibawakan oleh dr Gia dengan diksi ringan yang mudah difahami dengan alur maju mundur. Mengambil latar daerah Tasikmalaya yang berada di Jawa Barat.

Jika dibandingkan dengan tahun sekarang tahun 2024, artinya cerita yang terinspirasi dari kisah nyata ini menceritakan kejadian tiga puluh hingga enam puluh tahun yang lalu. Namun, dr Gia menuliskannya dengan sangat apik sehingga pembaca merasakan seolah-olah hidup pada masa itu.

Karakter Wira begitu sangat menarik dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbilang pas-pasan, tapi begitu semangat belajar, hal itu terjadi karena peran penting dari orangtua Wira yang sangat memperhatikan pendidikan terhadap 13 anaknya. Aku rasa keluarga ini termasuk istimewa karena pada tahun tersebut tidak semua orang bisa 'aware' dengan pendidikan.

Scane sedih saat Wira diharapkan oleh orangtuanya akan menjadi seorang dokter suatu saat nanti, keinginan itu diperkuat dengan ucapan Aki Musa yang merupakan orang terpandang di kampungnya yang 'meramal' sejak Wira masih dalam kandungan jika suatu saat nanti dia akan menjadi orang hebat yang akan menyelamatkan banyak orang.

Berkat kepintarannya, harapan tersebut semakin melambung tinggi, meski dalam hatinya sempat terbersit ingin menjadi seorang Pilot yang terinspirasi dari Kang Oyon, Sang Kakak yang sudah bekerja di perusahaan Maskapai Garuda Indonesia.

Berbekal keyakinan belajar siang dan malam untuk masuk sekolah kedokteran tingkat SMA, Wira mengikuti serangkaian test, seolah perjuangannya terbayar, Wira lolos sekolah kedokteran yang diinginkan. Kegembiraan itu berubah menjadi sebuah kegalauan saat mengetahui bahwa biaya yang harus dibayarkan dengan nominal yang tidak sedikit.

Obrolan dengan Sang Ayah di sawah benar-benar memantik rasa kecewa dan marah saat Sang Ayah bilang jika dirinya tak mampu mengusahakan nominal uang tersebut. Namun, Wira berusaha menekan sedalam mungkin perasaan kecewa itu. Hingga tak berapa lama Sang Ayah menhembuskan nafas terakhirnya.

Setelah SMA, Wira mencoba kembali mendaftarkan diri di fakultas kedokteran dengan harapan ada beasiswa, namun memang tak mudah dan sekolah kedokteran itu mahal serta membutuhkan uang yang banyak. Semesta sepertinya tak rela membiarkan Wira, si anak cerdas harus berputus asa begitu saja.

Perjalanannya menuntut ilmu dari SD hingga SMA yang penuh dengan berliku cerita memberinya peluang dengan harapan baru. Kang Oyon datang memberikan secercah harapan jika di kantornya sedang dibuka pendaftaran beasiswa sekolah menjadi pilot. Sebuah perjuangan meraih cita-cita yang indah.

2. Komitmen Seorang Lelaki

Dalam novel ini seperti dalam judulnya tentang cinta, memberikan sebuah pembelajaran tidak hanya sekadar bacaan romansa kosong. Rani, sosok perempuan yang bersemayam kuat dalam hati Wira seolah menjadi pemantik setiap lika liku perjalanan Wira dalam mengerjar mimpi. Cinta pada pandangan pertama seorang Wira terhadap Rani terjadi di usia yang sangat belia bahkan belum lulus dari Sekolah Dasar.

Wira saat itu sedang bermain bersama Denok, 'sahabat' yang selalu menjadi temannya setiap hari setelah lepas dari aktifitas sekolah. Saat sedang bersama Denok, Wira melihat Rani yang sedang duduk cantik di atas delman dengan memakai pita merah yang membuat hati Wira kecil bergetar hebat.

Rani bersama Ua Guru yang merupakan sahabat karib Ayah Wira. Saat itu Wira baru tahu bahwa Ua Guru yang sering bertemu dengannya memiliki anak gadis secantik Rani.

Pertemuan pertama itu memunculkan keinginan agar kembali dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Tak disangka, harapan itu terkabul saat Wira berlatih silat di rumah Aki Musa yang merupakan kakek Rani. Banyak hal 'konyol' terjadi saat Wira berlatih demi menarik perhatian Rani. 

Baru bertemu Rani sebentar, takdir membawa Wira harus melanjutkan SMP di Banjarmasin ikut bersama Kang Oyon demi meringankan beban ekonomi orangtuanya. Hari-hari yang dilalui terasa tak mudah, hal yang menjadi hiburannya adalah menuliskan surat-surat untuk Rani meski tak pernah satu pun dikirimnya.

Masa SMA Wira kembali lagi ke kampung halamannya, harapannya sering bertemu Rani muncul kembali. Namun, naas tak sekali pun harapan itu terwujud sampai pada akhir masa SMA, Wira diundang oleh Ua Guru dalam acara keluarga karena selama SMA Wira tinggal di rumah kost milik Ua Guru.

Saat itulah Wira bertemu dengan Rani. Ada sebuah obrolan yang memantik semangat Wira, bahwa Rani menyukai sosok berseragam yang berprofesi sebagai dokter atau pilot. Cinta berbalut ambisi meraih kesuksesan untuk memantaskan diri hingga saat sukses kelak, cinta yang bersemi bisa tergenggam dengan memberikan kebahagiaan.

Ini menurutku sebuah sebuah sikap romantis, tanggung jawab dan komitmen pembuktian cinta yang luar biasa dimana saat itu belum seperti saat ini yang bisa berkomunikasi setiap saat melalui gawai. Interaksi yang sangat minim tetap membuat rasa cinta mengakar begitu kuat.

Penutup

Menurutku buku ini sangat bagus untuk dibaca para pecinta cerita fiksi dengan genre romansa, namun tetap memiliki nilai pembelajaran. Bukan hanya sekadar kisah roman dari segi alur semata yang tidak memiliki nilai pembelajaran yang bisa dipetik.

Diksi yang indah dan mudah dimengerti, bahkan di saat ada pengunaan bahasa daerah atau bahasa asing tetap bisa difahami dengan adanya bantuan terjemahan yang sudah dituliskan.

Gaya tulisan alur maju mundur dengan sangat pas cara 'penyajiannya' sehingga tetap bisa membayangkan simpul-simpul cerita dari setiap kejadian meski dituliskan dengan bab yang berbeda.

Selamat membaca pecinta literasi.



Musim semi siang hari lebih panjang dan suhu pun terasa lebih hangat. sore hari kami mengisi waktu dengan bermain di taman dekat Apartmen. Biasanya sore hari ramai dengan anak anak dan orang dewasa, ada yang bermain beragam wahana permainan, ada yang berolahraga, ada yang sekadar duduk santai menikmati semilir angin sore dan ada juga para ibu-ibu rumpi laiknya ibu-ibu perumahan seperti kita di İndonesia. hehe.. . 

"Duh, pasti ramai nih kalau sore begini." Ucap Syakira saat melihat taman dari kejauhan. "Kenapa ya aku gak begitu suka?" lanjutnya. 

"İya wajar sih, Kakak termasuk orang introvert kan, jadi biasanya lebih nyaman sendiri atau kondisi yang sepi. tapi gak apa-apa kok, bukan berarti gak bisa. kita bisa belajar menyesuaikan diri dengan beragam kondisi. berusaha melatih diri terbiasa dengan kesendirian atau keramaian." Jawabku mencoba menjelaskan. 

Betul saja, sore ini taman begitu ramai. Muiz dan Muadz langsung bergerak ke arena pasir. mereka biasanya senang membuat karya dari pasir seperti membuat istana, rumah, benteng atau lainnya. di sela-sela membuat pasir, mereka berinteraksi dengan anak-anak lain seperti saling meminjamkan mainan atau sama-sama mengambil pasir-pasir yang dibutuhkan sesuai imajinasinya. 

Saat mulai bosan, mereka sejenak menaiki beragam wahana permainan atau berlari saling berkejaran dan tertawa. saat asyik berlarian, ada seorang anak yang mengambil wadah pasir milik Muiz. 

"Lho, itu kan punyaku. kok diambil sih?" tanya Muiz terheran. 

"Ambil aja." ucapku. Dengan sigap, Muadz ikut berlari ke arah anak yang mengambil mainan Muiz.

"Bu benim." (İni punyaku). Ucap Muiz sambil mengambil mainannya. Anak itu memegang erat wadah mainan yang berisi pasir itu terlihat gak mau mengembalikan. Beberapa saat Muiz membantu anak itu membagi pasir yang ditampung dalam wadah.

"Anaknya gak mau kembalikan. Ya udahlah gak apa-apa buat dia aja." keluh Muiz. 

"Ambil aja a, gak apa-apa kamu sedikit memaksa juga, kan udah dari tadi meminta dengan cara baik-baik bahkan berkali-kali." Setelah beberapa saat akhirnya Muiz berhasil memgambil mainannya. 

Suasana kembali kondusif. lagi dan lagi, ada anak lain yang mengambil bola Muadz tanpa izin. Sebelumnya, anak tersebut memang sedang bermain bersama Muadz dan beberapa kali diberikan pinjaman bola. tapi, saat ini anak itu mau membawa pulang bola Muadz tanpa izin dan langsung berlari ke arah luar taman. 

"İh itu kan bola aku. padahal itu mainan kesukaanku." Muadz langsung marah merasa keberatan. Syakira, Muiz dan Muadz dengan segera mengejar anak itu sampai terjadi pertengkaran. Ku lihat ibu anak itu datang menghampiri dan meminta untuk dikembalikan nanti setelah beliau berhasi membujuk. Tak lama kemudian ibunya mengembalikan bola Muad dengan cara dilempar dong dan tanpa ucapan terimakasih. Wkwkwkw

Aku hanya mengamati dari kejauhan. cukup memastikan mereka tetap aman dan ingin melihat sejauh mana interaksi mereka. Setelah sekian waktu, Muiz terliha begitu merasa bersalah. 

"Bunda, padahal gak apa-apa mainan aku dikasihkan aja k anak itu. Tadi dia keliatannya pengen banget deh." ucap muiz bahkan sampai berulang kali dengan rentan waktu berbeda. 

"İya bun, kan nanti kita bisa ambil lagi mainan di rumah." dukung syakira. 

"Bagus sih kalian rela berbagi dengan orang lain. tapi hari ini bunda ingin mengajarkan kalau kalian harus berani mempertahankan apa yang sudah menjadi milik kalian. jadi kalian harus belajar kapan saatnya kalian rela berbagi bahkan untuk barang yang sangat kalian sukai, tapi ada juga saat dimana kalian harus tahu bahwa ada masa-masa harus mempertahankan barang yang kalian miliki meski konsekuensinya harus menghadapi konflik, seperti tadi sampai bertengkar dan diliatin orang banyak."

Sore ini tidak hanya bermain menyenangkan hati, tapi semoga menjadi pembelajaran karakter bagi anak-anak yang akan melekat hingga nanti dewasa. Menjadi orang baik adalah sebuah keharusan, tapi menjadi orang baik dengan cara tepat, aku rasa sebuah karakter yang perlu ditanam dan diasah agar mereka terbiasa. 



Autumn di Kültürpark, Bursa, Turki

Mengawali hari pada bulan november dengan semangat yang menyala bukanlah tanpa sebab. Berawal dari sebuah rasa yang muncul, aku merasakan kebahagiaan dan nikmat tersendiri ketika bersama anak-anak melakukan beragam aktifitas. Meski tak dipungkiri, rasa bahagia itu tentu merangkum berbagai emosi negatif di dalamnya seperti rasa kesal, marah, dan kecewa.

Kemudian entah bagaimana ceritanya diluar ekspektasi dan planning, tiba-tiba aku secara spontan mengajak teman seperjuangan sesama pelaku Homeschoolingmom dengan tiga orang anak untuk melakukan obrolan melalui telpon.

Memiliki jumlah anak yang sama, memiliki hobby yang sama dalam dunia menulis, dan ada juga kesamaan karakter yang sepertinya menggerakkan hati untuk menghubunginya. Tapi, aku juga yakin bahwa semua ini bukanlah sebuah kebetulan, Allah-lah yang menggerakkan hatiku untuk mendapatkan hikmah-hikmah yang menjadi bahan bakar semangat memulai bulan november.

"Ketika seorang ibu merasa bahagia membersamai anak-anaknya, memang itulah fitrah seorang ibu." jawabnya saat kuceritakan penuh antusias apa yang sedang kurasakan. Wah mengena banget nih, sejalan dengan topik yang beberapa hari ini sedang kudengarkan materinya dari salah seorang ahli parenting tentang fitrah orangtua dan anak, Ustad Harry Santosa Allahu Yarham.

Memang begitulah fitrah seorang ibu yang akan merasakan bahagia bila bersama anak-anaknya, karena Allah sudah menjadikan fitrahnya sebagai madrasah/pendidik pertama bagi anaknya. Jadi hati ibu akan merasa bahagia dan juga merasakan sebuah kenikmatan karena apa yang dijalaninya sejalan dengan fitrahnya sebagai madrasah bagi anaknya. 

Akupun teringat lagi konsep energi yang dijelaskan oleh dr. Aisyah Dahlan, bahwa energi itu menular terutama energi dalam rumah itu kekuatan utamanya berasal dari seorang ibu. Energi itu terpancar dengan adanya gravitasi yang menarik semangat seluruh anggota keluarga untuk mengawali dengan kesepakatan-kesepakatan yamg akan dijalankan dalam ruang lingkup keluarga. 

Jika di bulan oktober pembahasan masih dalam ruang lingkup target diri, artinya bulan ini sudah mengalami progres ke arah yang lebih meningkat. Jika dulu masih diberikan target yang bersifat untuk pribadi seperti hal apa aja yang harus dipelajari, hal apa aja minat dan bakat yang akan dikembangkan, dan juga aktifas domestik yang masuk dalam ceklis yang disukai dan tidak disukai.

Untuk bulan ini, selain target pribadi anak-anak juga diberikan tugas lainnya yang bersifat kontribusi untuk keluarga. Jadi, kami membuat daftar apa saja kegiatan harian yang bersifat domestik agar berada di rumah terasa nyaman dan membagikan tanggung jawab tersebut kepada Syakira dan Muiz juga berdasarkan kegiatan yang disukai pada bulan oktober.

Selain kesepakatan aktifitas, kami juga membuat kesepakatan terkait screen time (aktifitas menonton dan bermain game depan leptop atau gawai). Jika hari sebelumnya mereka diperbolehkan untuk melakukan screen time setelah menyelesaikan target harian, maka sekarang mereka tidak diperbolehkan sama sekali kecuali di hari minggu dengan durasi maksimal dua jam. Prosesnya kesepakatan ini tidak begitu sulit sebenarnya karena bulan sebelumnya mereka sudah mulai dilatih untuk tidak begitu ketergantungan pada aktifitas tersebut.

Mengawali pekan pertama dengan berbagai cerita, tapi yang pasti semua kebaikan-kebaikan yang sudah dicapai menjadi ukiran senyuman bahwa kami bisa melakukannya meski dibelum sempurna.

Perbaikan ke depan masih juga berputar dalam permasalahan konsistensi, keteladanan, dan juga menjaga mood agar selalu stabil. Baik mood orangtua ataupun mood anak. 
 
Kültür Park, Bursa, Turki

Program membentuk sebuah habit dengan olahraga pagi di hari ke 2 cukup terkondisikan. Meski yang ikut hanya aku, Syakira, dan Muadz. Sedangkan Muiz memilih di rumah bersama ayahnya yang sedang kedatangan mahasiswa dari kota lain. 

Waktu aku berpamitan ke Parkı, Muiz sedang mengerjakan menebalkan tulisan AlQuran. "Wah hebat nih Muiz udah langsung ngerjain aja padahal belum disuruh." ucapku sebelum berangkat. "İya Mi. Biar cepet bisa main game sama kakak mahasiswa." Tuh kan, lagi dan lagi karena urusan game. Tapi gak apa-apa lah ya setidaknya menjadi pemicu semangat buat Muiz.

Seharian ini pun Muiz sampai 2 waktu belajarnya karena ingin cepat naik level. Dia mulai menghitung kemampuannya di usia 6 tahun bisa apa aja, dan memprediksi di usianya nanti udah 7 tahun apa aja yang harus dia kuasai. İtung-itung belajar manajemen perencanaan sejak di ya.  

Ketika di Parkı, aku langsung memainkan alat olahraga kesukaan. Entahlah apa namanya, tapi yang pasti membuatku nyaman terutama terhadap tulang belakang yang selama bertahun-tahun kadang bermasalah akibat traumatik kecelakaan motor.

Syakira dengan senang hati menjaga Muadz dan mempersilahkanku untuk berolahraga duluan. İnilah yang aku syukuri dari sikap Syakira. Meski dia mager kalau diajak belajar pelajaran akademik, tapi sangat bisa diandalkan urusan mengurus adik-adiknya. Tidak hanya menjaga dalam artian mengasuh, bahkan dengan senang hati memandikan, menyuapi, dan mengganti diapers (yang terkadang ayahnya aja suka pengen muntah kalau melakukan pekerjaan ini).

İnilah yang menjadi tantangan bagiku sebagai orangtua agar lebih bijak melihat potensi dan kebaikan seorang anak. Jadi sesuatu yang dianggap prestasi bukan hanya urusan akademik aja lho ya. Life skill seperti yang dilakukan oleh Syakira juga ini adalah sebuah prestasi yang tidak bisa dilakukan oleh seorang anak di usianya, bahkan orang dewasa sekalipun.

Pulang olahraga, seperti biasa Syakira menolak ketika kuajak belajar menyelesaikan tugas-tugasnya. Akhirnya aku mempersilahkan Syakira berkreasi di dapur kesukaannya. Taraaa jadilah Papeda dengan beragam porsi yang bisa disajikan untuk anggota keluarga dan kakak mahasiswa. 

Muadz hari ini kuajak ngobrol terkait warna. Kalau selama ini, sudah mulai tahu nama-nama warna seperti kuning, ungu, pink, hijau, biru, tapi ketika kutunjuk warna dan diminta menebak warna apa, Muadz masih asal menebak warna. Hari ini ada perkembangan, sudah mulai konsisten menebak warna kuning, hijau, pink dan biru. 

Selain itu, penanaman konsep malu sejak dini juga sudah mulai tertanam. Muadz sudah mulai faham dan mengaplikasikan rasa malu ketika membuka baju atau celana ketika dilihat orang lain. Tinggal selanjutnya ke level pemilahan kapan dan untuk hal apa menerapkan rasa malu.

Seharian ini sebenarnya gak banyak melakukan kegiatan yang bervariasi. Anak-anak bermain bersama kakak mahasiswa meski gak jauh-jauh dari gadget dari mulai belajar bahasa Turki, menggambar/mewarnai, bermain game dan menonton. Gak apa-apa lah ya, anggap saja mereka sedang belajar interaksi vertikal atau interaksi dengan orang lain yang usianya berada jauh dari mereka.

Tantangan selanjutnya yaitu aku harus mulai lebih kencang lagi membangun kesadaran terkait jadwal shalat. Jadi ketika waktunya shalat, anak-anak harus selalu diingatkan untuk segera shalat. 

Tentu ini tak lepas dari pribadi aku dan suami sebagai orangtua yang harus menjadi teladan terbaik, karena masih kadang lalai juga masih asyik melakukan pekerjaan. Selain itu faktor suara adzan yang kadang tidak terdengar karena jarak masjid yang tidak dekat. Padahal sudah pasang aplikasi adzan juga tapi kadang tidak nyala. Semoga Allah permudah dalam menjalankan shalat agar tepat waktu.

Tantangan selanjutnya yaitu urusan domestik yang masih belum terhandel dengan baik. Masih ada gunungan cucian yang lupa dijemur, kamar berantakan belum sempat dirapikan, dan urusan domestik lainnya melambai-lambai minta dirapikan. Tarik nafas... Keluarkan. Hehe... Dikerjakan semampunya aja. İni juga tak lepas dari dukungan suami ya yang tidak banyak menuntut urusan rumah yamg harus selalu terlihat rapi sempurna. Alhamdulillah... Bismillah masih terus bertekad untuk menjadikan rumah lebih tertata lagi.
Postingan Lama Beranda

ABOUT ME

I'm mother, I'm Homeschooling Fighter, I'm Finance.

Postingan Populer

  • Puisi itu bernama Kesedihan
  • Pengalaman Menemani Anak Yang Sakit
  • Mempertahankan Sesuatu Milik Sendiri
  • Flashfiction #Nenek
  • Mengenang Bapak: Cerita Dibalik Telepon Rumah
  • Jurnal Refleksi Kegiatan Homeschooling 24 Agustus 2021
  • Review Buku Cinta 31.000 Kaki Karya dr. Gia Pratama
  • Bahagia Bersama Anak, Fitrah Seorang İbu
  • Menyapa Diri
  • Bapak, Semoga Husnul Khatimah

SUBSCRIBE & FOLLOW

Advertisement

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Redesign By Mas Blogger