nav#menunav { border-bottom: 1px solid #e8e8e8; }

Naskah Terakhir Andita


Aku pernah berada di fase kondisi, rasanya hidup begitu tak semenarik itu. Tak ada yang membuat semangatku menggelora menjalani hari. Hingga merasa aku tidak istimewa. 

Tidak punya keinginan, tidak tahu kelebihan yang bisa menjadi value diri, tidak punya tujuan. Menjalani hidup hanya 'bernapas' mengikuti waktu yang bergulir. 

Hingga satu waktu, ada seseorang menghubungiku, "Kak, aku suka banget sama tulisan-tulisannya, bacanya tuh enaaak banget. Boleh aku belajar?" tanyanya. 

Di masa-masa itu aku mengisi kegabutan hidup dengan menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran. 

Aku benar-benar tidak punya koneksi diri, banyak yang mengungkapkan rasa suka atas hasil tulisanku ternyata tidak membuatku mengerti kalau aku punya potensi yang bisa dikembangkan lebih baik. 

"Boleh, Andita," jawabku membuat Andita merasa sangat senang. 

Sejak hari itu, Andita rajin menghubungiku terkait dengan naskah dan akupun memberikan koreksi berulang karena naskah yang dibuatnya sangat mentah. Tapi, sebanyak apapun koreksi yang kuberikan, Andita selalu menerima dengan hati yang lapang. 

Beberapa bulan berlalu, naskah pun jadi. Lumayan layak diterbitkan antologi mengingat ini adalah naskah pertamanya. Proses penerbitan pun tak bisa cepat, masih harus melalu beberapa tahap. 

Editor penerbit sudah approve, layout dan flayer promosi sudah jadi, kemungkinan tinggal menunggu beberapa pekan lagi buku antologi siap dipeluk oleh Andita. Namun, kabar mengejutkan membuat napasku sempat tertahan. Tak menyangka. 

"Halo, Kak Evi. İni Kakaknya Andita. Terimakasih sudah membantu mewujudkan keinginannya menjadi penulis. Sekarang Andita sudah tenang, sudah tidak sakit lagi."

Beberapa bulan mengenal Andita, aku sama sekali tidak tahu jika selama proses menulis, dia sedang berjuang melawan sakit kelainan pembuluh darah. 

İni naskah pertama dan terakhir Andita, tapi melaluinya aku banyak belajar. Saat kesempatan masih mampu diraih, jangan pernah berhenti untuk belajar dan menebarkan manfaat bagi oranglain. 

Aku memahami satu hal, bisa jadi Allah tuh memberikan kita sapaan-sapaan dan pesan bermakna melalui beragam hal yang terjadi menghampiri. Sapaan lembut masih bisa diterima, tapi bagaimana jika sapaan itu hadir dengan cara yang menyakitkitkan dan menyedihakan? Apapun takdirnya, semoga kita terus berusaha maksimal melakukan setiap kebaikan. 

Related Posts

0 komentar